BROWSE BERITA

DARI MEJA GUBERNUR

TUNJANGAN KINERJA DAERAH

 
 

PEMBERITAHUAN UNTUK SEMUA KARYAWAN PEMERINTAH PROVINSI DKI JAKARTA

 
 

PERUBAHAN ATAS PERATURAN GUBERNUR NOMOR 215 TAHUN 2009 TENTANG TUNJANGAN KINERJA DAERAH

 
 

TIM ASISTENSI PENANGANAN PEMULANGAN TENAGA KERJA INDONESIA BERMASALAH DAN KELUARGANYA DARI MALAYSIA

 
 
DETAIL BERITA
Halaman ini akan segera diarahkan ke Detail berita di Design Baru. Klik disini untuk langsung menuju halaman tersebut.

12-04-2008

Pengerukan 13 Sungai Dimulai 2009

 

Pemprov DKI dan pemerintah pusat sepakat akan melakukan normalisasi dan pengerukan 13 sungai di Jakarta  sebagai upaya untuk mengantisipasi banjir yang kerap mengancam Ibukota. 

Demikian dikatakan Wakil Gubernur DKI DKI Jakarta, Prijanto, saat meninjau normalisasi Kali Mookervart dan menyalurkan 100 unit alat biopori dan 5.000 pohon yang disumbangkan sejumlah perusahaan di kawasan Kelurahan Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, Sabtu (12/4).

"Pemerintah pusat dengan daerah sudah sepakat untuk mengeruk 13 sungai besar yang ada di Jakarta," katanya. "Dalam waktu dekat akan ada bincang-bincang untuk melaksanakan pengerukan kali," ujarnya.

Mantan Aster KASAD itu mengungkapkan untuk melakukan normalisasi dan pengerukan 13 sungai besar di Jakarta itu membutuhkan biaya yang sangat besar. Proyek tersebut dibiayai pinjaman lunak Bank Dunia.

“Proses administrasi pinjaman dari Bank Dunia akan diselesaikan tahun ini. US$ 150 juta merupakan pinjaman lunak ditambah bantuan hibah US$ 10 juta. 

Rencananya, kata Prijanto, pengerukan 13 sungai pengendali banjir yang telah mengalami kedangkalan itu baru akan dimulai pada tahun 2009. Tahun 2008 ini akan diselesaikan administrasinya. Proyek tersebut terbagi ke dalam beberapa program hingga tahun 2012. Tahun 2009 dilakukan pengerukan, rehabilitasi tanggul, dan perbaikan pompa-pompa sekaligus pembangunan lokasi pembuangan lumpur. Rencananya selesai tahun 2010 sehingga waktu dua tahun digunakan untuk pemeliharaan dan peningkaran kapasitas sumber daya manusia dalam penanggulangan banjir di Jakarta.

Sebenarnya, ungkap Prijanto, Pemprov DKI telah dan sedang melakukan program normalisasi sungai untuk mengantisipasi bencana banjir. Namun Pemprov DKI Jakarta menemukan kendala keterbatasan anggaran karena luasnya sungai sehingga tidak bisa seluruhnya dikeruk. "Pemda punya anggaran pengerukan sungai, tapi terbatas karena luasnya sungai yang akan dikeruk dan dilebarkan," pungkasnya.

Untuk mengantisipasi banjir dan kekeringan, Pemprov DKI Jakarta juga tengah melakukan program lubang biopori yang dapat menyerap air ke permukaan tanah. "Tujuannya untuk mengisi air tanah agar tanah tidak terjadi penurunan turun," katanya. "Jika air tanah terus kita sedot tanpa ada penyerapan kembali maka dalam 20 tahun bisa terjadi penurunan tanah hinggal satu meter," katanya.

Pendangkalan dan tumpukan sampah yang mengakibatkan tidak lancarnya aliran sungai disebabkan kurangnya kesadaran dan kepedulian masyarakat sendiri. Kali Mookervart misalnya,  yang pada awalnya memiliki luas 70 meter kini mengalami penyempitan hingga yang tersisa sekitar 20 meter.

Di Manggarai juga, lanjut dia, tumpukan sampah menjadi pemandangan sehari-hari. "Kesadaran masyarakat masih sangat rendah. Mereka menganggap sungai itu adalah tempat pembuangan sampah," ungkapnya.

Prijanto didampingi Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Jakarta Barat dan sejumlah pejabat teras Pemkot Jakbar menyempatkan diri meninjau Kali Mookervart yang sudah dinormalisasi hasih bantuan dari sejumlah perusahaan sepanjang sekitar 2 kilometer.

H Amanah, warga Rt 002/01 Kelurahan Semanan mengungkapkan normalisasi Kali Moukervart yang sudah dilakukan baru bisa dirasakan oleh sejumlah perusahaan saja, sementara warga di sekelilingnya masih diselimuti rasa ketakutan saat hujan turun. "Sekarang ini baru perusahaan saja yang merasakan, tapi kami bersama ribuan warga di sekelilingnya masih dihantui bencana banjir," tuturnya.

Ia berharap, kepada Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat segera melanjutkan program normalisasi kali Mookervart hingga ke Cengkareng Drain. Jika itu sudah dilakukan, kata dia, banjir di wilayah Semanan baru bisa ditanggulangi, atau paling tidak bisa diminimalisir. "Kalau tidak dilanjutkan hingga ke Cengkareng Drain, program ini tidak bisa dirasakan warga, karena hanya menjadi waduk dan air akan mengalir ke daerah yang lebih rendah," ungkapnya.

 

Penulis: udin

Sumber: sahruddin

Cetak Berita Ini
 
BERITA LAINNYA

03-09-2010

6 Ribu Penumpang Padati Stasiun Senen

 

03-09-2010

H-4 Truk Dilarang Melintas di Jakarta

 

03-09-2010

Lebaran, RSUD Cengkareng Tetap Layani Warga

 

03-09-2010

TPS Liar Menjamur di Jakbar

 

03-09-2010

Arus Mudik di Terminal Lebakbulus Masih Normal

 

03-09-2010

30 BUS AKAP Lulus Kir di Terminal Lebakbulus

 

03-09-2010

Lebaran, Perairan Jakarta Dijaga 100 Personil

 

03-09-2010

Tren Pendatang Baru Menurun

 

03-09-2010

Operasi Pasar Efektif Tekan Inflasi

 

03-09-2010

11.156 Botol Miras Dimusnahkan

 

 
  ke ataske atas